
Salah satu orang yang patut dihargai effortnya di kantor adalah Dion. Bukan apa-apa, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya di Alive ! 9 to 5, begitu pulang dari kantor dia masih dirongrong oleh bisnisnya. Dion sering bekerja hingga larut malam untuk clothingnya itu dan besok paginya dia harus berjuang bangun agak lebih cepat supaya tidak terlambat ke kantor.
Alarm Dion berbunyi jam 7 pagi. Tapi dia tidak segera bangun karena itu adalah alarm persiapan yang berarti dia masih masih akan benar-benar bangund ari tempat tidurnya itu satu jam kemudian. Dion masih memejamkan matanya ketika sebuah bunyi yang kali ini sepertinya datang dari handphonenya tersebut berbunyi. 5 menit menuju jam delapan Dion bangun kemudian segera meraih handphone yang ia simpan tidak jauh dari tempat tidurnya tersebut. Ternyata sebuah SMS telah diterima dan Dion bukan tipe orang yang biasa menerima SMS di jam-jam ‘terlalu pagi’ seperti itu. Dengan mengerenyit Dion pun membaca SMS yang abru saja ia terima tersebut.
‘Morning Ion. Eh, bo, sori, gw ga bawa mobil lagi nih. Boleh ga gw nebeng lo? Ntar gw tunggu lo dibelokan yang waktu itu lagi, ya. Btw as compliment, gw punya JCo nih buat lo. Thnx b4.-Sissy-’
Dion pun tersenyum kemudian dengan cepat jempolnya memijit-mijit keypad handphonenya sambil segera bangkit dari tempat tidurnya.
‘Aseeek. OK bos, ntar gue jemput. Tungguin aja di belokan situ, yak.’
Bagi Dion pagi itu terasa lebih segar dari sekedar kesejukan udara pagi dan efek teh manis yang ia minum sebelum berangkat tadi. Setelah berusaha untuk tidak terlambat, Dion pun tiba di belokan tempat ia berjanji untuk menjemput Sissy. Dion menghentikan motornya tapi ia belum melihat Sissy ada disitu. Dion pun segera meraih handphonenya tapi sebuah angkutan kota yang melintas kemudian berhenti tidak jauh dari motornya itu mengurungkan niatnya. Sissy turun dari angkutan kota tersebut kemudian dengan langkah agak terburu-buru account executive Alive! tersebut menghampiri Dion sambil menyerahkan bungkus kertas yang mengeluarkan wangi yang mengundang selera.
“Sori Ion, macet gila, ampun deh…” ujar Sissy sambil menaiki motor Dion.
“Mau kemana neng ?” tanya Dion bercanda meskipun mimik wajahnya tampak serius.
“Ke kantor Alive! ya, mang…” sahut Sissy
“Lho, itu kan pangkalan saya…” celetuk Dion.
“Kalo gitu gue juga tukang ojeg dong bo…” balas Sissy dan keduanya pun tertawa.
Sekarang semua orang menilai bahwa aku memiliki sebuah pekerjaan yang menyenangkan. Waktu aku memberi tahu teman-temanku bahwa aku bekerja di sebuah kantor dimana para pegawai perempuannya tidak segan-segan menunjukan kaki dan dada, sama seperti cowok-cowok straight lainnya mereka langsung menyebut bahwa aku memiliki pekerjaan yang menyenangkan, menyebut bahwa kantor aku seperti surga, dan ada sebuah pertanyaan bodoh dari salah satu sahabatku, Ananta.
“Terus, lo udah nge-date sama salah satu staf lo ?”
“Nggak…” jawabku singkat.
“Atau jangan-jangan lo udah jadian sama salah satu dari mereka.”
“Belum sih-, maksud gue…nggak lah…” dan kali ini Ananta dan Fadly tertawa-tawa.
Gue nggak maksud ngejawab kayak gitu, soalnya terus terang gue sampai saat ini bahkan nggak pernah ngebayangin gue nge-date sama salah satu dari staf cewek Alive !.
Semenyenangkan-menyenangkannya kantorku menurut penilaian orang terutama dari kaca mata laki-laki, Salma yang sering menunjukkan sepasang kaki jenjangnya atau Dinda yang sering tampil dengan menunjukan punggung dan dadanya tetap saja tidak bisa menyelamatkanku dari hari-hari yang kurang menyenangkan. Seperti hari itu, aku tiba dikantor dengan memikirkan beberapa iklan yang harus segera digarap dan tulisan-tulisan yang harus aku edit sementara deadline semakin mendekat. Dan, kaki jenjang atau baju-baju terbuka bukanlah jaminan dari sebuah kantor untuk bisa tidak memberikanmu stress. Begitu aku menjejakan kaki di anak tangga paling atas kantor, Miranda yang sebelumnya memang melangkah menaiki tangga dengan terburu-buru dibelakangku seperti sedikit mendorongku seperti tidak sabar.
“Sorry, Ric,” ucap Miranda yang sibuk dengan telponnya sementara aku hanya mengangguk dengan senyum tipis dan PR Alive! itu terus melangkah dengan gusar menuju kantornya sambil terus berbicara di handphone. “Iya Mbak, waktu itu kan saya udah confirm tentang logo kita…, iya…,”
Got to get a cup of coffee, ngedit tulisannya Rahmi, ngingetin Dinda ngumpulin tulisannya kontributor…
Begitu aku akan membelok masuk ke dalam dapur, jari-jari lentik Eliza menyentuh dadaku dengan sebuah dorongan yang lembut sehingga aku harus menghindari Si Cantik Beracun yang tengah membawa secangkir teh hijau panas.
“Sorry, Ric,” ucap Eliza.
“OK,” jawabku singkat dan terdengar gumaman dari bibirnya.
“Gue musti follow up BCBG, hampir aja lupa…”
Aku sendiri sepertinya tidak bisa bersantai-santai pagi itu. Begitu selesai menyeduh kopi secangkir kopi hitam yang mengeluarkan wangi yang menyegarkan, aku tidak bisa berlama-lama dengan Paul dan Amed di dapur yang sedang memikirkan distribusi Alive ! di tempat-tempat yang belum mereka jangkau dan melakukan hal yang bisa jadi paling dibenci oleh orang-orang di ruang redaksi.
Barking order time…
“Mi, liputan lo yang runwaynya Bian kemaren udah selesei ?” tanyaku begitu melewati pintu ruang redaksi.
“Lagi gue baca lagi Ric. 5 menitan lagi, ya…” sahut Rahmi.
“Sar, yang ngerjain disain William Rast lo apa Dion ?”
“Dion, Ric…” Sara menjawab tepat disaat Dion baru saja tiba di ruang redaksi.
“Bentar Bos, mau gue rapihin dulu dikit.” Dion memastikan.
“Sip, ntar kalo udah beres masukin folder gue, ya. Mau di proofing dulu soalnya. Sal, gimana udah dapet model-model buat Scherer-Gonzalez ?”
“Udah ada Ric,” Salma pun segera keluar dari balik mejanya dan berjalan menghampiri mejaku dengan membawa dua lembar foto dan menaruhnya di mejaku dengan maksud agar aku bisa melihatnya. “Gimana, apa kita mau casting lagi hari ini ?”
“Mmm…,” gumamku sejenak sambil memperhatikan lembaran-lembaran foto yang disodorkan oleh Salma. “Nggak usah deh, langsung aja.”
“OK deh...”
“Din, tolong telponin Amel sama Vero dong, artikelnya udah dikirim blom ?”
“Vero udah ngirim. Tulisannya udah ada di folder lo, Amel lagi gue telpon nih,” jawab Dinda dengan telepon di kuping. “Halo Mel…”
Bahkan ruang marketing yang dikuasai oleh Mbak Shinta dan Ronald yang ‘jagonya’ ngomong saja di saat-saat tertentu bisa jadi sangat tenang. Begitu juga ruang redaksi. Aku jadi ingat hari pertama kami berada dalam satu ruangan, aku dan Dion lah yang memecah keheningan karena membicarakan Amed yang membuat cewek-cewek yang ada disitu ikut tertawa bahkan berkomentar dan mendadak ruang redaksi jadi ramai sampai-sampai waktu itu Mbak Shinta sempat ingin satu ruangan dengan kami Cuma gara-gara Dion melontarkan candaan-candaan sarkasnya.
Setelah makan siang, ruang redaksi memang tidak sesepi itu karena sambil mengedit beberapa tulisan yang masuk aku bisa mendengar sedikit-sedikit Dinda dan Salma berdiskusi tentang pemotretan yang akan berlangsung besok. Sementara Dion mengasingkan diri dengan headphonenya, Rahmi dan Sara juga sepertinya terlibat obrolan yang seru.
“Jadi kakaknya si Paul udah dateng kemaren ?” Tanya Sara sambil terus sibuk dengan tampilan layer komputernya pada Rahmi.
“Iya, cuman kemaren kakaknya lagi ada acara gitu deh sama temen-temennya, nggak jadi deh gue ketemu sama kakaknya…” sahut Rahmi berhenti mengetik.
“Lega dong lo…”
“Yaaa, nggak gitu juga sih. Lagian kayanya jadinya hari ini gue ketemuan sama kakaknya.”
“Oh, belum lega juga toh, ternyata…” Sara pun tertawa pelan.
“Nggak tau kenapa gue jadi berpikir bahwa kakaknya Si Paul tuh jadi kaya perwakilan nyokapnya gitu, ngerti nggak ?”
Sara pun memalingkan wajahnya memandangi Rahmi dengan tenang yang berada di balik kubikels sebelah.
“Maksudnya lo berpikir bahwa ntar kakaknya Paul bakalan ngasih tau ke nyokapnya lo seperti apa…?”
“Ya gitu, tau deh. Gara-gara Paul bilang kalo dia mirip-mirip sama gue, terus kita bisa get along, gue cuman takut aja ternyata gue nggak bisa akrab sama kakaknya kan ?”
“Lo takut ngecewain Paul ?”
“Iyaaa…, kan kasian juga dia.”
“Ya, Mi, liat aja ntar. Toh kalian juga belum ketemu.” Sarah berkata dengan nada menenangkan.
Agak iri juga sebenarnya melihat Rahmi dan Sara mulai tertawa-tawa kecil di belakang meja mereka sementara aku harus berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaanku. Tapi beberapa saat kemudian handphone yang aku letakan tidak jauh dari lap topku itu pun berbunyi. Aku pun segera meraihnya dan belum apa-apa aku sudah mengutuk karena aku memperhatikan bahwa pesan promosi provider yang agak mengganggu itu sering masuk di jam-jam seperti itu. Benar saja, begitu melihatnya, aku sudah menghapus ajakan menghambur-hamburkan pulsa tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu. Tapi begitu aku meletakan kembali handphone kenangan tersebut, alat komunikasi yang belum kunjung aku kuasai semua fiturnya tersebut kembali berbunyi tanda sebuah pesan kembali diterima. Aku kembali meraih handphoneku dan membaca pesan yang masuk tersebut.
‘Hi Ric. Gue lagi on the way ke Bandung nih. Ntar gue kabarin lagi kalo gue udah nyampe, ya ;) –Milla-’
Seperti biasanya jam pulang kantor selalu disambut dengan meriah. Meskipun sebenarnya sejak dari jam 4, ruang tengah sudah kembali menjadi tempat untuk para staf Alive! dan itu adalah sebagai tanda bahwa hari itu semua orang tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Setelah sempat ada acara minum teh dadakan, tepat jam 5 seperti biasanya kami pun bergerombol untuk meninggalkan kantor. Dan sepertinya hari itu semua orang sudah memiliki rencananya masing-masing, ada yang sudah direncanakan, ada juga yang dadakan.
Saat itu yang menjadi keinginan Miranda hanyalah pulang ke tempat kosnya, lalu kembali menikmati segelas kopi dan canda-tawa dengan teman-teman satu kosannya yang kadang-kadang membuat ia merasa memiliki keluarga di Bandung. Dengan tenang Miranda duduk di belakang kemudi berusaha bersabar menghadapi kemacetan yang harus ia hadapi hamper setiap hari sampai akhirnya handphone-nya pun berbunyi. Miranda segera meraih handphonenya tersebut dan sempat merencanakan untuk menjawabnya dengan tidak menyenangkan bila itu adalah panggilan yang tidak penting. Tapi begitu melihat nama dilayar handphonenya yang berkedip-kedip tersebut, wajahnya menunjukan sedikit keceriaan.
“Sore…,” sapa Miranda dengan sedikit nada candaan.
“Sore, lagi dimana Mir ?” terdengar suara Hardian membalas.
“Gue lagi di Bandung, lah…”
“Dan lo bekerja untuk majalah fashionnya Alive!…” ucap Hardian dan Miranda pun tertawa singkat.
“Udah tau kan ? Kok nanya lagi ?” Miranda bertanya dengan maksud bercanda.
“Lo nggak keberatan kan gue bertanya karena gue berada di kota yang menyenangkan ini dan gue benci untuk menikmatinya sendirian sementara beberapa jam lagi gue harus balik ke Jakarta…”
Melihat Paul dan Rahmi itu serasa melihat Brad Pitt dalam balutan Zegna dengan Angelina Jollie bergaya Lara Croft tanpa celana pendeknya.
Rahmi keliatan keren waktu launching dengan gaun dan high hills, tapi ngeliat dia kayak gitu justru jadi serasa ngeliat orang lain, bukan Rahmi. Mungkin emang gayanya yang kayak gitu yang bikin Paul suka sama dia.
Sore itu keduanya sudah berada di sebuah café di mall Dago untuk menemui kakaknya Paul. Rahmi memang menjadi merasa agak canggung dengan rencana Paul untuk mengenalkan dirinya dengan kakak Paul yang menurut pacarnya itu mereka akan cocok. Tapi entah kenapa Rahmi justru berpikir bahwa mungkin, kakak cowoknya itu akan berharap bahwa Paul akan memperkenalkan seorang Dinda, cewek yang berpenampilan sangat modis, ayu, sehingga begitu kakak perempuan Paul itu melihat dirinya, ibu Paul mungkin akan menerima berita; ‘ceweknya Paul itu cantik, supel, behave, pokoknya calon mantu yang mantap deh…’. Tapi sekarang yang ada di kepala Rahmi adalah bagaimana kalau nanti berita yang diterima oleh ibu Paul adalah; ‘ceweknya Paul tuh manis lah (Mudah-mudahan seperti itu), lumayan supel anaknya cuman ya ampun, dia tuh berantakan banget…’. Jadinya, tidak heran kalau saat itu langkah-langkah Rahmi terasa agak kaku dan Rahmi merasa ini seperti waktu dia akan mengikuti panggung tujuh belasan dengan tarian bodoh saat dia masih kecil dulu.
“Tuh, kakak gue…” ucap Paul ketika ia dan Rahmi telah sampai di café yang mereka tuju. Paul memandang ke beberapa orang yang sedang duduk bersama di sebuah meja dipojok teras Tra La La café itu.
Dengan cepat Rahmi melakukan analisa. Disitu ada empat orang wanita dan seorang pria. Seorang cewek cantik dan bergaya yang sepertinya sedang bersama dengan cowoknya – Paul tidak memberitahu dirinya bahwa kakaknya itu akan datang dengan pacarnya-, dua cewek yang satu memiliki badan yang berisi sementara yang satu lagi langsing tapi semuanya kelihatan tampil sangat modis, lalu…salah satu diantara mereka, cewek yang rambutnya dipotong lebih pendek daripada Rahmi dengan highlight merah pun bangkit dari tempat duduknya. Perempuan itu memakai tank top yang santai dan sederhana tapi terlihat sangat modis, sementara dikepalanya menempel sebuah sunglass yang sepertinya sekarang berfungsi untuk menahan poni rambutnya yang dibelah pinggir dan cewek itu menghembuskan asap rokoknya sambil berkata dengan suara yang agak lantang.
“Halo…,” sapa perempuan yang cukup cantik dengan make-up tipis di wajahnya itu menyapa Rahmi dan Paul.
“Hai, Paul…” sapa cewek-cewek yang lain pada Paul.
“Hai…,” balas Paul yang langsung menyalami orang-orang tersebut bergantian sementara Rahmi masih berdiri santai menutupi kecanggungannya. “Eh, Kak, ini Rahmi cewek gue…” ujar Paul pada si rambut pendek lalu terdengar celetukan-celetukan iseng yang membuat Rahmi hanya tersipu malu.
“Oh, iyaaa…,” ujar kakak Paul tersebut dan Rahmi pun langsung datang mendekat untuk bersalaman. “Tyra…,”
“Rahmi…,” Rahmi pun memperkenalkan diri dan Tyra pun menempelkan kedua pipinya pada pipi Rahmi. Setelah itu Tyra pun memperkenalkan Rahmi dengan teman-temannya.
“Sorry ya kemaren katanya kalian udah nunggu mau ketemuan ya ?” ujar Tyra dengan hangat saat Paul dan Rahmi telah duduk satu meja dengannya.
“Iya…” jawab Rahmi masih agak malu-malu dengan singkat.
“Lagian lo nggak bilang kalo ada acara…” ujar Paul pada kakaknya itu.
“Lha lo nggak bilang sama gue kalo mau ketemuan kemaren, jadi gue harus mendampingi mereka-mereka ini untuk begaol gitu…” ucap Tyra yang gaya bicaranya mulai membuat Rahmi merasa lebih rileks. “Kan nggak ada yang tau jalan-jalan Bandung nih ceritanya, cuman gue yang hafal, jadi lah ya bo, gue harus mengantar om dan tante-tante ini jalan-jalan kemaren…” Tyra berkata pada Rahmi dengan gaya berbicara yang sangat khas.
“Ah, itu juga nyasar-nyasar, giling…” celetuk Mega, teman Tyra yang memiliki badan berisi dan Tyra pun tertawa.
“Gue juga udah lupa-lupa inget sih…” bela Tyra.
“Padahal kemaren ajak Paul aja, dia nyantai deh kayanya kemaren...” kali ini Rahmi bisa berucap agak lebih lebih panjang.
“Iya, gue juga kepikirannya gitu. Kenapa gue nggak ngajak kalian aja ya…?”
“Dia malah bilangnya pas kita udah di Sukajadi Mall gitu, setelah sempat muter ke Setiabudhi…” celetuk Arya, teman cowok Tyra yang disambut tawa oleh semua orang.
Obrolan-obrolan itu pun terus berlanjut. Dan Rahmi pun juga mulai bisa menikmati tempat duduknya sementara Tyra, ternyata Paul benar. Tyra adalah seorang perempuan yang cantik dan sangat supel. Saat itu juga semua apa yang sudah dipikirkan oleh Rahmi sebelumnya terlupakan. Kakak perempuan Paul itu ternyata adalah seorang yang sangat menyenangkan.
Satu kali di tahun pertama aku kuliah, aku dan bandku yang sering dikritik Papa sebagai sebuah band yang bising tak bernada manggung disebuah acara underground. Ini lucu. Waktu itu aku mengajak seorang cewek yang masih duduk dibangku kelas 3 SMA untuk menjadi teman kencanku -OK, bahasa kerennya groupies mungkin- dengan konyolnya karena sebenarnya, aku tidak terlalu mengenal adik kelas temanku itu. Tapi sok akrab ternyata membuahkan hasil yang…,kurang bagus memang. Sekembalinya dari mangunggung malam-malam, aku mengantarkannya pulang dan kami mendapatkan 15 menit yang menyenangkan di halaman rumahnya.
Cewek itu ngitung berapa lama kita ciuman. Agak terdengar sinting sih emang tapi setelah itu aku juga mengetahui ternyata beberapa orang juga melakukannya…
Sesudahnya, kami jarang bertemu hingga akhirnya dua minggu kemudian, aku mengetahui kalau cewek itu sudah menjadi pacar dari seorang pemain band terkenal. Sedangkan aku yang sedang tergila-gila dengan seorang cewek dikampus, sama sekali tidak merasa bahwa itu adalah sebuah masalah.
Menurut gue sih, seperti itulah one night stand itu kira-kira. Senang-senang hanya untuk beberapa saat dan semuanya selesai…
Milla. Jika aku menyebut pertemuan aku dengan Milla itu adalah sebuah keajaiban mungkin berlebihan. Tapi, mencium seseroang dengan penuh hasrat di hari pertama kenalan dan tidak mendapat tamparan, itu adalah keajaiban…
Prestasi mungkin, tapi emang gila…
Seseorang bisa membuatmu merasa nyaman dalam waktu yang singkat itu jarang-jarang terjadi. Itulah kenapa aku ngotot pada teman-teman untuk mengatakan ini bukan one night stand. Ini bukan masalah Milla yang menurutku dia cantik, sangat ‘berani’ dalam berpakaian dan kakinya bagus. Di luar penilaian secara fisik, semuanya terjadi karena aku bisa merasa nyaman dengannya dan sepertinya Milla juga bisa menerimaku dengan baik, sangat baik malahan. Satu hal yang aku sukai dari Milla adalah karena dia tidak ragu-ragu untuk mendekatiku, dia bisa membuatku tidak merasa seperti orang asing. Tapi dia juga tidak sok akrab atau malah banyak berdiam diri dan bilang bahwa aku terlihat lebih baik dengan t-shirt dan jeans ketimbang baju butik ternama yang mahal, aku pikir itu adalah sebuah kejujuran.
Milla mengajakku untuk bertemu di Sukajadi Mall sore itu. Waktu aku menanyakan padanya dalam rangka apa apa dia ada di Bandung saat itu, dia hanya menjawab bahwa dia ada kerjaan. Ada sedikit perasaan tidak sabar dalam hatiku untuk bertemu lagi dengan Milla dan selalu saja terlintas dalam benakku bahwa ini adalah hal yang tidak benar tapi aku tidak memikirkannya lebih lanjut. Aku sendiri tidak mengerti, tetapi setiap menyebut nama Milla, aku selalu memikirkan sebuah kejutan.
Gue excited, dan dia udah bikin kejutan dengan datang ke Bandung sekarang…
Dengan langkah agak terburu-buru karena aku tidak ingin membuat Milla menunggu terlalu lama, aku pun tiba di Starbucks, tempat Milla menungguku dan aku langsung dapat melihat dia disana dengan strappy one piece putih bercoraknya. Sebuah pemandangan eksklusif yang lucunya aku berkata begitu saja dalam hati…
There’s my sexy one…
Melihat kedatanganku, Milla segera bangkit dari tempat duduknya dan menyambutku dengan senyumannya yang khas.
“Halo…,” sapa Milla cerah.
“Hai…,” balasku dan begitu aku menjabat tangannya, Milla menempelkan pipinya pada kedua pipiku.
“Guys, kenalin, ini Rico, chief editornya majalah Alive!” ucap Milla kemudian memperkenalkanku pada beberapa temannya yang datang bersama dengannya. Rupanya Milla datang ke Bandung karena majalah Putri melakukan sebuah sesi pemotretan yang kebetulan berlokasi di jalan Asia-Afrika dan Braga. Dan oleh karena itulah Milla datang bersama-sama dengan beberapa model yang masih berusia belia, seorang stylist dan fotografer dari Majalah Putri.
“Jadi lo dalam rangka kerja nih dateng ke sininya ?” tanyaku pada Milla setelah aku duduk dengan santai disebelahnya.
“Iya, ini juga gue ngedadak. Tadinya gue nggak berencana untuk ikut sih…cuman karena kebeneran kerjaan gue juga lagi nggak banyak, akhirnya gue pikir ya udah deh, gue ikut pemotretan aja, lumayan sambil main…” Tutur Milla.
“Gue tadi agak kaget juga sih pas lu nge-SMS gue tadi. Kok lo nggak bilang kemaren pas gue nelpon lo ya ?” ujarku dan Milla pun tertawa ringan.
“Ya, namanya juga mendadak…”
“Jadi rencana lo apa nih ?” tanyaku iseng
“Justru itu, karena gue nggak rencana juga dateng kesininya, gue berharap lo yang punya rencana…” ucap Milla yang memandangiku lekat.
“Well, so, let’s start make some plan…” ucapku dengan candaan dan Milla kembali tertawa ringan.
Keinginan Miranda untuk sekedar berteman dengan Hardian justru telah membuahkan perasaan yang lebih terhadap chief editor papan atas tersebut. Miranda mengenal pemimpin redaksi majalah Statement tersebut ketika ia masih kuliah dan Hardian menjadi seorang pemberi materi disebuah workshop jurnalistik yang diadakan oleh kampusnya tersebut. Awalnya mereka hanya berkenalan biasa sampai akhirnya mereka bisa menjadi lebih akrab setelah sebelumnya Miranda sempat bekerja di sebuah majalah lokal yang kebetulan pemiliknya adalah salah seorang sahabat Hardian. Tapi justru baru setelah Miranda bekerja di Alive! lah ia bisa menjadi benar-benar dekat dengan Hardian.
Wangi parfum yang sangat khas itu merebak seolah-olah memberikan aroma terapi bagi Miranda untuk bisa merasa lebih segar lagi sore hari itu. Sudah beberapa menit lamanya ia duduk berbincang-bincang kesana kemari dengan Hardian di salah satu meja yang ada di Starbucks Cihampelas mall tersebut.
“…kan gue bilang tuh sama anak-anak gue abis dari pestanya Alive!, terus anak-anak protes gitu kok nggak diajak…” tutur Hardian yang segera disela oleh Miranda.
“Lho, Mas Satya kan ada, Mas Ferdi kan aku undang tuh, tapi dia sendiri yang bilang nggak bisa dateng, jadi chief editornya Soul yang baru itu yang dateng. Mas Aji juga nggak bisa dateng. Yang lainnya sih, ya maaf, nggak ada di list gue, gitu…” Miranda berkata diakhiri tawa.
“Iya, makanya gue bilang, kalian diundang nggak ? Kalo nggak ya berusaha lebih keras aja lain kali. Gue gituin aja…” timpal Hardian dan keduanya kembali tertawa.
Setelah itu untuk sesaat suasana pun menghening sejenak. Saat itulah Miranda menangkap sesuatu dari seorang Hardian. Sesuatu yang sebelumnya belum pernah ia lihat dari sosok yang diam-diam ia puja dalam hatinya tersebut. Ia belum pernah melihat Hardian gundah sebelumnya, tapi entah mengapa sore itu Miranda bisa tahu bahwa Hardian sepertinya berbeda, ada sesuatu yang sepertinya ‘mengganggu’ perhatian sang pemimpin redaksi.
“Lo…terlihat gundah…” celetuk Miranda kemudian sambil menyalakan sebatang rokok. Hardian sempat memandangi Miranda sesaat, sebelum ikut menyalakan sebatang rokok.
“Keliatan banget ya ?” balas Hardian bertanya.
“Nggak juga sih. Cuman lo tampak agak beda aja. Nggak fokus…”
“Ya berarti keliatan…”
“Nggak banget tapi…”
“Atau mungkin cuman lo yang bisa ngeliat…“ ucap Hardian dan keduanya pun saling berpandangan.
“Wanna talk about it ?”
“Lo yakin mau dengerin gue ngobrolin hal ini ?”
“Try me…”
Hardian menghembuskan asap rokoknya, ia terlihat ragu sejenak tetapi kemudian ia pun kembali berkata.
“It’s about my wife…” Hardian berucap pelan.
“OK…, so, how’s she…?”
“She wants a ‘break’…”
“Eh, Ric ada salam dari Fany,” ucap Milla sambil menyuapkanku sepotong tiramisu.
“Apa katanya ?”
“Iya, jangan nakal katanya…”
Secara tidak sengaja aku pun tersedak mendengar apa yang diucapkan oleh Milla dan ia pun segera memberikanku secangkir frappuccino.
“Emang lo bandel ya ?” tanya Milla perlahan dengan dagu terangkat dan mimik jahil.
“Nggak, si Fany aja tuh yang becanda…” belaku dengan tersenyum.
“Berarti iya,”
“Menurut lo ?”
“Bandel banget…” ucap Milla lalu meneguk frappuccinonya dengan senyuman.
Milla bisa membuatku merasa nyaman meskipun saat itu ia sedang bersama dengan teman-temannya yang lain. Aku bisa berbincang-bincang dengan cukup baik dengan Doddy sang fotografer, sementara stylist majalah Putri yang juga seorang editor itu berusaha beberapa kali meyakinkan dirinya bahwa aku straight.
Susah juga emang jadi cowok yang nggak sengaja nyasar di dunia fashion…
“So, kita mau kemana nih ?” tanya Milla kemudian kepadaku.
“Lo sampe jam berapa disininya ?” balasku bertanya.
“Tau nih anak-anak sih bilang paling telat jam 8-an udah mo balik,”
“Keliling-keliling disini aja kali ya ?” ujarku melemparkan pendapat.
“Terserah lo…” jawab Milla antusias.
Setelah memastikan pada teman-teman Milla bahwa kami akan kembali berkumpul di warung kopi tersebut akhirnya aku memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Milla. Kami hanya berjalan-jalan sebentar mengelilingi Mall tersebut, kemudian Milla pun mengajakku untuk mampir di sebuah departemen store yang ada disitu.
“Lucu nggak sih ?” tanya Milla padaku sambil menempelkan sebuah baju yang tiba-tiba saja membuatku membayangkan bagaimana kalau Milla mengenakannya tanpa bawahan seperti legging.
“Lucu, bagus…” jawabku singkat sementara Milla kembali meraih sebuah baju yang bermodel hampir sama.
“Kalo sama yang ini lucuan yang mana ?” tanya Milla lagi dan sebenarnya aku berpikir seharusnya dia yang lebih tahu.
Tapi kalo gue bisa milihin baju buat dia mungkin lebih sweet…
“Yang itu…” aku dan Milla saling berpandangan sejenak dan entah apa yang ada di dalam pikiran kami saat itu, aku dan Milla malah saling melemparkan senyum. “Jujur aja, yang pertama tadi terlihat…lebih seksi…” ucapku dengan mengangkat sebelah alisku dan Milla pun tertawa ringan dengan lepas.
“OK,” Milla tampak membanding-bandingkan kedua baju tersebut sejenak. “kayaknya mending dicobain dulu, lah ya…”aku pun mengantar Milla menuju fitting room.
“Lo seneng banget belanja ya ?” celetukku pada Milla.
“Aduh, maafin ya, bo. Gue emang nggak bisa liat barang bagus dikit. Mustinya tadi lo bilang jelek pasti nggak jadi gue coba deh…”
“Yakin lo ?”
“Yaaa…, nggak tau juga sih ya…” jawab Milla dengan tawa.
Ketika Milla masuk ke dalam fitting room, dengan santainya aku pun melangkah melalui pintu kamar pas tersebut sementara Milla sibuk dengan baju pilihannya tersebut. Setelah aku mengunci rapat pintu dari fitting room itu, Milla membalikan badannya dan seperti sudah direncanakan sebelumnya, aku pun segera menyambut tubuh Milla dalam pelukanku dan bibir kami pun bertemu. Sejurus kemudian Milla meregangkan wajahnya lalu ia menatapiku dalam.
“Miss you, Ric…”
“Miss you too…”
Aku pun memeluk tubuh Milla erat-erat, kemudian mengecupnya dalam sementara Milla, ia membiarkan tubuhnya kehilangan balutan one piece cantik yang ia kenakan tersebut.
Dan gue bisa mendengar lagu Whenever You Call dari Mariah Carey dan Brian Mc Knight sayup-sayup menggaung malam itu…
Sekarang, sudah tidak ada lagi perasaan canggung yang dirasakan oleh Rahmi setelah selama beberapa jam ia dan Paul bersama-sama dengan Tyra dan teman-temannya. Ternyata apa yang dikatakan oleh Paul benar. Tidak sulit bagi dirinya untuk bisa akrab dengan Tyra, sedangkan Tyra sendiri bisa membuat dirinya merasa nyaman dan tidak asing. Beberapa kali mereka terlibat obrolan tentang buku-buku favorit mereka yang justru membuat Paul bingung, hingga membicarakan film atau hal-hal yang tidak penting lainnya.
“Jadi kapan nih rencananya, Paul ?” celetuk Arya iseng pada Paul.
“Rencana apa nih maksudnya ?” Paul balas bertanya.
“Married…” sahut Arya.
“Wah…,” Paul hanya bisa menjawab singkat sambil memandangi kakaknya sejenak sementara Rahmi rasanya seperti dipaku di tempat duduknya. “belum, man. Belum berencana kesana…”
“Alaaah, udah lo nggak usah nunggu dia,” timpal Mega maksudnya pada Tyra. “Bisa lama ntar kalo nunggu dia dulu sih…” teman-teman Tyra pun tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Mega.
“Kesannya gue nggak laku gitu ya, bo ?” celetuk Tyra dengan candaan.
“Lho, emang lo laku ya, Ra ?” tambah Arya sehingga tawa pun semakin merebak.
“Nggak sopan ! Kalo gue sih yang penting nggak asal laku…” bela Tyra kembali dengan nada bercanda. “Emang lo udah yakin sama dia, Mi ?” ujar Tyra sekali lagi bercanda pada Rahmi yang hanya tersenyum lebar.
“Nnggg…, Nggak perlu dijawab kan ?” sahut Rahmi yang kembali membuat yang lain tertawa.
“Udah, udah, obrolannya udah mulai sakrkastik nih, ganti topik, ntar ada yang nangis lagi…” Mega menandaskan diikuti tawa dan gunjingan-gunjingan tambahan.
Rahmi dan Paul pun saling berpandang-pandangan sejenak dan Rahmi bisa melihat seolah-olah cowoknya itu berkata semuanya baik-baik saja dan Rahmi sangat menikmati malamnya itu.
Entah apa kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaan Miranda saat itu pada Hardian. Kasihan, iba, atau mungkin simpati setelah pemimpin redaksi majalah Statement itu menuturkan kisahnya. Miranda tahu bahwa Hardian mungkin tidak bisa menceritakan semuanya dengan jelas pada Miranda karena itu adalah masalah pribadinya. Yang jelas saat itu Hardian bercerita bagaimana sepulangnya ia dari launching Alive!, Nadine sang istri tidak ada dirumah dan ketika dihubungi, Nadine tidak ingin untuk bertemu dengan dirinya. Setelah berusaha untuk menemui istrinya tersebut, Hardian mendapat jawaban bahwa Nadine tidak ingin diganggu dan sedang ingin sendirian sehingga akhirnya dengan kebingungan Hardian pun kembali ke Jakarta. Hari itu Nadine memutuskan untuk bertemu dengannya, itu pun hanya sebentar untuk memberitahukan secara langsung bahwa Nadine sedang tidak ingin untuk bertemu atau bahkan berkomunkasi dengan Hardian sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
“Sebenernya gue bingung juga-, mungkin dia pengen divorce…” kata-kata Hardian pun terhenti sementara Miranda hanya terdiam memandangi Hardian yang duduk diseberangnya. “Tapi yah, gue berusaha berpikir postif aja sekarang sih.” Kali ini Hardian mengakhiri kata-katanya dengan tatatapan menerawang.
“Mungkin,” Miranda pun memberanikan diri untuk berkata dengan lambat. “lo harus lebih bersabar lagi buat mengahadapi masalah ini, maksud gue, kalo misalkan ada sesuatu yang nggak bener atau rusak, maybe you should fix it.”
“Ya, I see. Ya udahlah, we’ll see. Lagian sebenernya gue nggak mau membicarakan hal ini sama siapa-siapa.” Tandas Hardian dan sekarang Miranda dapat melihat raut wajah Hardian sekarang tampak sudah agak menjadi ringan.
“But you looks better now…”
“Am I ?”
“Iya…,”
“Thanks to you then.” Ucap Hardian dan Miranda pun tersenyum.
“Kenapa gue ?”
“Kalo gue nggak ngomongin ini sama lo, mungkin gue nggak akan terlihat lebih baik.”
“Emang lo nggak cerita ke siapa-siapa lagi selain gue ?”
“Ada sih temen gue. Tapi kadang-kadang laki-laki nggak bisa nyelesein masalah lelaki…” kata-kata Hardian itu pun membuat Miranda tertawa manis dengan pelan.
Setelah sempat berbincang-bincang lebih lama lagi di Starbucks dan Hardian sudah tampak lebih cerah daripada bulan yang sedang bersinar malam itu, akhirnya Editor in Chief Majalah Statement tersebut pun memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
“Thanks udah mau nemenin gue ya, Mir,” ucap Hendrian sambil membukakan pintu mobil Miranda.
“Sama-sama,” ucap Miranda tersenyum.
“Kapan lo balik ke Jakarta ?”
“Nggak tau nih, mungkin minggu ini kalo gue nggak terlalu males buat ngebut di Cipularang…” Hardian pun tertawa pelan mendengar apa yang diucapkan oleh Miranda.
Untuk sementara keduanya saling berpandangan ketika Miranda telah duduk di depan kemudi sementara pintu mobilnya itu masih terbuka.
“Pulang, Di. Banyak hal yang musti lo lakukan…” ucap Miranda pada Hardian.
“Iya, I just…”
Keduanya kembali berpandangan dan Miranda pun mencondongkan badannya kemudian mendaratkan kecupan di pipi Hardian.
“You’ll be okay…,” ucap Miranda perlahan lalu ia pun menutup pintu mobilnya.
Kijang Innova silver itu kemudian meluncur meninggalkan lapangan parkir sementara Hardian kemudian berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari situ.
Dion terduduk diam di ruang tamu rumah yang cukup besar dengan gaya interior klasik tersebut. Jiwa disainernya langsung mengkritisi hiasan-hiasan yang menempel di dinding ruangan tersebut termasuk benda-benda lainnya dan sepertinya satu-satunya hal yang ia sukai dari ruangan tersebut hanyalah sofanya yang memiliki disain yang ia perkirakan harganya cukup mahal dan tempat ia duduk tersebut memang sangat nyaman. Meskipun begitu, ia masih duduk dengan kaku tapi tetap membuat dirinya sesantai mungkin sambil menikmati sebatang rokok.
Untuk sesaat Dion menerawang sambil memikirkan bagaimana jika beberapa hiasan di ruangan tersebut ia tata ulang agar terlihat lebih baik lagi sampai akhirnya sang empunya rumah pun datang
“Nih minum dulu, kasian tukang ojeg gue, hehehe…” Sissy muncul sambil tertawa pelan membawakan nampan yang tampaknya diatasnya terdapat dua gelas –yang cukup besar- teh manis, mungkin, dengan beberapa jenis kue-kue.
“Wah, apaan nih, nggak usah repot-repot Sy, jadi enak gue…” celetuk Dion dingin dengan tersenyum.
“Biar lo punya tenaga buat pulang ntar. Kalo lo masuk angin terus nggak masuk kerja gara-gara nganterin gue, ntar Rico mencak-mencak lagi sama gue…” ucap Sissy sambil menaruh apa yang ia bawa tersebut di atas meja, lalu duduk disebelah Dion.
“Diminum, ya Sy,” ujar Dion sambil meraih gelas berisi teh manis tersebut.
“Nggak boleh,” canda Sissy dan tentu saja Dion tidak menghiraukan apa yang dikatakan temannya tersebut dan malah balas bercanda.
“Lagian dibawa kesini…” Sissy pun tertawa mendengar ucapan Dion yang segera menyeruput minumannya yang masih panas tersebut.
“Awas panas…!” Sissy berucap tertahan sementara Dion terlanjur mencicipi teh dengan air mendidih tersebut.
“Banget !” tambah Dion dan Sissy kembali tertawa. “Kuenya dulu deh kalo gitu…”
Keduanya kemudian terlibat obrolan santai sambil menikmati kue-kue buatan ibu Sissy dan segelas teh yang akhirnya menghangat tersebut. Mulai dari membahas pekerjaan hingga hal-hal lain. Dion yang selalu menanggapi segala sesuatu dengan santai bahkan disaat dia sedang bercanda pun ternyata membuat Sissy bisa menikmati saat-saat melepas lelahnya setelah bekerja seharian tersebut.
“Sy, makanannya udah siap tuh,” terdengar suara Ibu Sissy dari ruangan yang lain.
“Yuk, makan, yuk,” ajak Sissy pada Dion.
“Wah, jadi ini baru menu pembuka nih ?” ujar Dion dan yang dimaksud adalah kue-kue yang dihidangkan oleh Sissy sebelumnya.
“Iya, sengaja gue, biar lo gendutan dikit…” celetuk Sissy jahil sambil bangkit dari tempat duduknya.
“Tau gitu gue makan dikit aja tadi kuenya…”
“Udaaah…, kekurangan lemak aja masih protes…”
“Maskud gue bair gue bisa makan banyak…”
“Dasar, kurus-kurus gembul…”
Mbak Shinta sudah sering memuji Eliza –selain karena pekerjaannya yang selalu beres- dengan kata-kata: ‘Tuh anak emang hot,’ atau ‘Si Liz tuh hot’. Dan Eliza tidak perlu melakukan hal-hal yang berlebihan untuk bisa menjadi seorang hot geek magnet. Dan yang diperlukan oleh account excecutive Alive! itu hanya senyum seadanya, tatapan mata yang khas, gerak-gerik yang santai namun luwes dan tentunya sedikit sentuhan dari Marc Jacobs.
Eliza tinggal disebuah rumah yang sebelumnya ia tinggali bersama kedua orang tuanya sebelum akhirnya, ayahnya yang bekerja di sebuah perusahaan waralaba ternama itu harus kembali berdinas di Jakarta. Jadilah sekarang dia tinggal dengan Amel, sahabatnya dan seorang pembantu yang sudah menjadi seperti pengasuhnya.
“…dia lucu, tapi he’s kinda messed up sih bo, menurut gue sih…” ucap Eliza sambil memegang secangkir cokelat hangatnya dekat-dekat ke bibirnya pada Amel yang sudah setengah berbaring di sebelahnya. “Not that mess actually. Maksud gue, dia cuman…apa ya, sembarangan aja gitu kayaknya anaknya…”
“Cowok itu emang ‘jorok’, kali Liz…” timpal Amel santai. “kalo ada spesies selain kelinci yang bisa jadi lambang Playboy, udah pasti cowok…” tandas Amel dan keduanya pun tertawa.
“Apa lagi coba…?” Eliza menimpali dengan santai sementara Amel mengeluarkan sisa tawanya “Dan kadang dia itu ganggu…,”
“Ganggu but it worth to watch ya, bo ?”
“Pastinya ya,”
“Kenapa lo nggak langsung deketin dia aja sih Liz ?”
Mendengar apa yang dikatakan oleh Amel, Liz hanya terdiam sambil menyeruput cokelatnya yang nikmat itu.
“Udah, tapi…, I’m afraid that he’s goin to beg for more…” ucap Eliza mantap dan untuk pertama kalinya sejak keduanya bercakap-cakap Amel memalingkan wajahnya. “we’ll see lah, ya…”
Keduanya pun kembali tertawa kemudian dan handphone Eliza pun berbunyi.
“Ya ampuuun, siapa sih nih ? ” ujar Eliza dengan enggan melihat sederet nomor yang tidak ia kenali di layar handphonenya. Setelah ragu sejenak, Eliza pun memijit tombol hijau untuk menjawab panggilan tersebut. “Halo…?”
“Halo, malem…Eliza ?” terdengar suara renyah diseberang sana.
“Iya, ini dengan siapa ya ?”
“Ini Hardian…”
“Oh, iya mas…” Eliza baru menyadari bahwa nomor sang penelpon belum tersimpan di phonebooknya. “ada apa ya ?”
Eliza dapat melihat Amel memandanginya dengan tatatapan bertanya tapi Eliza hanya mengangkat alisnya.
“Sorry nih, nelponnya kemaleman. Lagi nyantai kan ?”
“Iya, mas.”
“Saya cuman pengen nanya aja kapan kira-kira kita bisa ketemuan…, ada sesuatu yang pengen saya bicarain tapi kayanya lebih enak kalo kita ketemuan…”
“Oh, gitu…”
“Iya, I give you a clue deh, it’s about media relations sebenernya…”
“OK…,”
“So, kapan nih kira-kira bisa ketemuan ? Bisa di Bandung mungkin atau di Jakarta-, barusan saya abis dari Bandung sih, sebenernya, cuman saya ada urusan jadi nggak sempet ngontak-ngontak.”
“Gini deh mas, saya kan biasanya weekend pulang ke Jakarta tuh. Cuman nggak pasti juga sih. Tapi ntar klo saya lagi nyantai di Jakarta saya kontak mas deh.”
“Oh OK, it’ll be nice. Saya tunggu kabarnya. Thank you ya-, saya manggilnya apa nih, Eliza aja atau…”
“Liz aja mas,”
“OK, Liz. Thanks banget, ya ?”
“Sama-sama mas.”
Setelah saling mengucapkan selamat malam, obrolan singkat itu pun berakhir dan kali ini Eliza pun menyimpan nomor tersebut di phonebooknya.
“Siapa Liz ?” tanya Amel tanpa memalingkan pandangannya dari TV.
“Chief Editornya Statement…”
Kali ini Amel memalingkan wajahnya seperti bertanya sedangkan Eliza tidak memberikan ekspresi yang berarti dan kembali menyeruput cokelatnya.




